The students are : Ais – Abi – Afif – Via – Vina – Amel – Anggun – Anis – Asri – Dila – Izal – Farel – Iyas – Ghani – Aqil – Himmah – Elda – Icha – Kumala – Fatta – Faiz – Farhan – Naufal – Taqi – Lintang – Putri – Idar – Nuri – Sukma – Nisa – Lala – Yudhis – Nadhif - Abyan

Wednesday, May 18, 2011

SUKMA - ICHA - NURI di SANGIRAN

Monday, May 16, 2011

10 Sahabat Yang Dijamin Masuk Surga


“Dan orang-orang yang terdahulu lagi yang petama-tama (masuk Islam) di antara orang-orang Muhajirin dan Anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridho kepada mereka dengan mereka dan mereka ridho kepada Allah. Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai. Mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Itulah kemenangan yang agung.” (Qs At-Taubah : 100)

Berikut ini 10 orang sahabat Rasul yang dijamin masuk surga (Asratul Kiraam).

1. Abu Bakar Siddiq ra.
Beliau adalah khalifah pertama sesudah wafatnya Rasulullah Saw. Selain itu Abu bakar juga merupakan laki-laki pertama yang masuk Islam, pengorbanan dan keberanian beliau tercatat dalam sejarah, bahkan juga didalam Quran (Surah At-Taubah ayat ke-40) sebagaimana berikut :
“Jikalau tidak menolongnya (Muhammad) maka sesungguhnya Allah telah menolongnya (yaitu) ketika orang-orang kafir (musyrikin Mekah) mengeluarkannya (dari Mekah) sedang dia salah seseorang dari dua orang (Rasulullah dan Abu Bakar) ketika keduanya berada dalam gua, diwaktu dia berkata kepada temannya:”Janganlah berduka cita, sesungguhya Allah bersama kita”. Maka Allah menurunkan ketenangan kepada (Muhammad) dan membantunya dengan tentara yang kamu tidak melihatnya, dan Allah menjadikan seruan orang-orang kafir itulah yang rendah. Dan kalimat Allah itulah yang tinggi. Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” Abu Bakar Siddiq meninggal dalam umur 63 tahun, dari beliau diriwayatkan 142 hadiets.

2. Umar Bin Khatab ra.
Beliau adalah khalifah ke-dua sesudah Abu Bakar, dan termasuk salah seorang yang sangat dikasihi oleh Nabi Muhammad Saw semasa hidupnya. Sebelum memeluk Islam, Beliau merupakan musuh yang paling ditakuti oleh kaum Muslimin. Namun semenjak ia bersyahadat dihadapan Rasul (tahun keenam sesudah Muhammad diangkat sebagai Nabi Allah), ia menjadi salah satu benteng Islam yang mampu menyurutkan perlawanan kaum Quraish terhadap diri Nabi dan sahabat. Dijaman kekhalifaannya, Islam berkembang seluas-luasnya dari Timur hingga ke Barat, kerajaan Persia dan Romawi Timur dapat ditaklukkannya dalam waktu hanya satu tahun. Beliau meninggal dalam umur 64 tahun karena dibunuh, dikuburkan berdekatan dengan Abu Bakar dan Rasulullah dibekas rumah Aisyah yang sekarang terletak didalam masjid Nabawi di Madinah.

3. Usman Bin Affan ra.
Khalifah ketiga setelah wafatnya Umar, pada pemerintahannyalah seluruh tulisan-tulisan wahyu yang pernah dicatat oleh sahabat semasa Rasul hidup dikumpulkan, kemudian disusun menurut susunan yang telah ditetapkan oleh Rasulullah Saw sehingga menjadi sebuah kitab (suci) sebagaimana yang kita dapati sekarang. Beliau meninggal dalam umur 82 tahun (ada yang meriwayatkan 88 tahun) dan dikuburkan di Baqi’.

4. Ali Bin Abi Thalib ra.
Merupakan khalifah keempat, beliau terkenal dengan siasat perang dan ilmu pengetahuan yang tinggi. Selain Umar bin Khatab, Ali bin Abi Thalib juga terkenal keberaniannya didalam peperangan. Beliau sudah mengikuti Rasulullah sejak kecil dan hidup bersama Beliau sampai Rasul diangkat menjadi Nabi hingga wafatnya. Ali Bin Abi Thalib meninggal dalam umur 64
tahun dan dikuburkan di Koufah, Irak sekarang.

5. Thalhah Bin Abdullah ra.
Masuk Islam dengan perantaraan Abu Bakar Siddiq ra, selalu aktif disetiap peperangan selain Perang Badar. Didalam perang Uhud, beliaulah yang mempertahankan Rasulullah Saw sehingga terhindar dari mata pedang musuh, sehingga putus jari-jari beliau. Thalhah Bin Abdullah gugur dalam Perang Jamal dimasa pemerintahan Ali Bin Abi Thalib dalam usia 64 tahun, dan dimakamkan di Basrah.

6. Zubair Bin Awaam
Memeluk Islam juga karena Abu Bakar Siddiq ra, ikut berhijrah sebanyak dua kali ke Habasyah dan mengikuti semua peperangan. Beliau pun gugur dalam perang Jamal dan dikuburkan di Basrah pada umur 64 tahun.

7. Sa’ad bin Abi Waqqas
Mengikuti Islam sejak umur 17 tahun dan mengikuti seluruh peperangan, pernah ditawan musuh lalu ditebus oleh Rasulullah dengan ke-2 ibu bapaknya sendiri sewaktu perang Uhud. Meninggal dalam usia 70 (ada yang meriwayatkan 82 tahun) dan dikuburkan di Baqi’.

8. Sa’id Bin Zaid
Sudah Islam sejak kecilnya, mengikuti semua peperangan kecuali Perang Badar. Beliau bersama Thalhah Bin Abdullah pernah diperintahkan oleh rasul untuk memata-matai gerakan musuh (Quraish). Meninggal dalam usia 70 tahun dikuburkan di Baqi’.

9. Abdurrahman Bin Auf
Memeluk Islam sejak kecilnya melalui Abu Bakar Siddiq dan mengikuti semua peperangan bersama Rasul. Turut berhijrah ke Habasyah sebanyak 2 kali. Meninggal pada umur 72 tahun (ada yang meriwayatkan 75 tahun), dimakamkan di baqi’.

10. Abu Ubaidillah Bin Jarrah
Masuk Islam bersama Usman bin Math’uun, turut berhijrah ke Habasyah pada periode kedua dan mengikuti semua peperangan bersama Rasulullah Saw. Meninggal pada tahun 18 H di urdun (Syam) karena penyakit pes, dan dimakamkan di Urdun yang sampai saat ini masih sering diziarahi oleh kaum Muslimin.

http://www.dakwatuna.com

Islam = The Way of Life

Bismillah

Monday, May 9, 2011

Maher Zain's Insya Alloh

Maher Zain's Insya Alloh featuring Fadli PADI Lyrics

Ketika kau tak sanggup melangkah

Hilang arah dalam kesendirian

Tiada mentari bagai malam yang kelam

Tiada tempat untuk berlabuh


Bertahan terus berharap

Allah selalu di sisimu


Insya Allah, Insya Allah

Insya Allah ada jalan

Insya Allah, Insya Allah

Insya Allah ada jalan


Every time you commit one more mistake

You feel you can’t repent and that it’s way too late

You’re so confused wrong decisions you have made

Haunt your mind and your heart is full of shame


But don’t despair and never lose hope

’Cause Allah is always by your side


Insya Allah, Insya Allah

Insya Allah you’ll find a way


Insya Allah, Insya Allah

Insya Allah ada jalan


Turn to Allah He’s never far away

Put your trust in Him, raise your hands and pray

Oh Ya Allah tuntun langkahku di jalanmu

Hanya engkaulah pelitaku

Tuntun aku di jalanmu selamanya


Insya Allah, Insya Allah

Insya Allah we’ll find our way

Insya Allah, Insya Allah

Insya Allah we’ll find our way


Insya Allah, Insya Allah

Insya Allah we’ll find our way

Insya Allah, Insya Allah

Insya Allah we’ll find our way



Koleksi Maher Zain yang lain.
Mp3 Download & Lirik Lagu Maher Zain – Insya Allah (feat. Fadly Padi)
Gambar Artis Indonesia

Tuesday, March 29, 2011

Let's Pray Subuh in the Masjid!

Sholat terberat bagi orang-orang munafik adalah sholat Isyak dan Subuh. Padahal seandainya mereka mengetahui pahala pada kedua sholat tersebut, tentu mereka akan mendatanginya walaupun harus merangkak.

(HR. Ahmad)

Monday, February 21, 2011

ZAID BIN TSABIT Sekretaris RasuluLlah


Zaid bin Tsabit termasuk "group sahabat junior". Ia 10 tahun lebih muda dari pada Ali ibn Abi Thalib. Zaid dilahirkan 10 tahun sebelum hijrah. Orang tuanya, yang berasal dari kabilah Bani an-Najjar, adalah termasuk kelompok awal penduduk Madinah yang menerima Islam. Di bawah bimbingan dan pendidikan orang tuanya, Zaid tumbuh menjadi seorang pemuda cilik yang cerdas dan berwawasan luas. Ia mempunyai daya tangkap dan daya ingat yang melebihi rekan-rekan seusianya saat itu.

Pada saat-saat penantian kedatangan RasuluLlah dan Abu Bakar di Madinah dari Makkah, Zaid bin Tsabit termasuk mereka yang sebentar-bentar pergi ke tepi kota melihat kalau-kalau Sang Junjungan tercinta telah datang. Betapa berbunganya hati kaum muslimin Madinah melihat RasuluLlah memasuki batas kota. Mereka menyambut dengan rasa syukur, dan menawarkan rumah-rumah mereka kepada RasuluLlah. Berlainan dengan yang lain, pemuka Bani Najjar tidak menawarkan rumah-rumah mereka, tapi menawarkan pemuda anggota kabilah mereka: Zaid bin Tsabit kepada RasuluLlah, untuk diterima sebagai asisten beliau di bidang kesekretariatan mengingat kecerdasannya yang luar biasa dalam bidang ini.

Betapa girangnya hati sang pemuda cilik ini, dapat membantu dan selalu berdekatan dengan Utusan Allah yang ia cintai. RasuluLlah SAW pun gembira dan menerima tawaran pemuka Bani Najjar. RasuluLlah sangat mencintai sahabat ciliknya yang ketika itu baru berusia 11 tahun. Zaid bin Tsabit tidak mengecewakan RasuluLlah, dalam waktu sangat singkat dia dapat menuliskan dan menghafal 17 surat Al-Qur'an. Disamping tugasnya sebagai sekretaris untuk menuliskan dan menghafal wahyu yang baru diterima RasuluLlah, Zaid pun mendapat assignment dari RasuluLlah untuk mempelajari bahasa Ibrani dan Suryani, dua bahasa yang sering dipergunakan musuh Islam pada waktu itu. Kedua bahasa ini dikuasai oleh Zaid dalam waktu sangat singkat, 32 hari!

Pada masa kekhalifahan Abu Bakar, Zaid bin Tsabit mendapat tugas sangat penting untuk membukukan Al-Qur'an. Abu Bakar RA memanggilnya dan mengatakan, "Zaid, engkau adalah seorang penulis wahyu kepercayaan RasuluLlah, dan engkau adalah pemuda cerdas yang kami percayai sepenuhnya. Untuk itu aku minta engkau dapat menerima amanah untuk mengumpulkan ayat-ayat Al-Qur'an dan membukukannya." Zaid, yang tak pernah menduga mendapat tugas seperti ini memberikan jawaban yang sangat terkenal dalam memulai tugas beratnya mengumpulkan dan membukukan Al-Qur'an:

"Demi Allah, mengapa engkau akan lakukan sesuatu yang tidak RasuluLlah lakukan? Sungguh ini pekerjaan berat bagiku. Seandainya aku diperintahkan untuk memindahkan sebuah bukit, maka hal itu tidaklah seberat tugas yang kuhadapi kali ini."

Akhirnya dengan melalui musyawarah yang ketat, Abu Bakar RA dan Umar bin Khattab dapat meyakinkan Zaid bin Tsabit dan sahabat yang lain, bahwa langkah pembukuan ini adalah langkah yang baik. Hal-hal yang mendorong segera dibukukannya Al-Qur'an, adalah mengingat banyaknya hafidz Qur'an yang syahid. Dalam pertempuran "Harb Ridah" melawan Musailamah Al-Kazzab, sebanyak 70 sahabat yang hafal Qur'an menemui syahid.

Dengan pertimbangan-pertimbangan ini, Zaid bin Tsabit menyetujui tugas ini dan segera membentuk team khusus. Zaid membuat dua butir outline persyaratan pengumpulan ayat-ayat. Kemudian Khalifah Abu Bakar menambahkan satu persyaratan lagi. Ketiga persyaratan tersebut adalah:

1. Ayat/surat tersebut harus dihafal paling sedikit 2 orang.
2. Harus ada dalam bentuk tertulisnya (di batu, tulang, kulit dan bentuk "hardcopy" lainnya).
3. Untuk yang tertulis, paling tidak harus ada 2 orang saksi yang melihat saat dituliskannya.

Dengan persyaratan tersebut, dimulailah pekerjaan yang berat ini oleh Zaid bin Tsabit yang membawahi beberapa sahabat lain. Pengumpulan dan pembukuan dapat diselesaikan masih pada masa kekhalifahan Abu Bakar.

taken from www.as-sunnah.org

Cara Menyuburkan Dzikrul Maut



Substansi mengingat kematian bukan semata-mata terhadap waktu dan proses kematian itu sendiri, tapi juga pada apa yang menjadi konsekuensi sesudahnya. Maka untuk menyuburkan kualitas dzikrul maut (mengingat maut), kita harus menempuh langkah-langkah berikut ini:

1. Meningkatkan pemahaman tentang kehidupan sesudah mati.

Aqidah Islam mengajarkan kita tentang keimanan terhadap adanya kehidupan setelah mati, seperti adanya siksa kubur, hari kebangkitan, perhitungan amal, shirat, serta balasan Surga atau Neraka.

Dengan memahami semua perkara ini, setiap Muslim akan menyikapi dan menjalani hidup secara benar. Allah Subhanahu wa Ta’ala (SWT) berfirman:

“Dan apa saja yang diberikan kepada kamu (kekayaan, jabatan, keturunan), maka itu adalah kenikmatan hidup duniawi dan perhiasannya; sedang apa yang di sisi Allah adalah lebih baik dan lebih kekal. Maka apakah kamu tidak memahaminya?” (Al-Qashas [28]: 60)

2. Menjadikan dunia sebagai ladang menanam kebajikan dan tempat persinggahan.

Kehidupan manusia di dunia ini ibarat seorang musafir yang menempuh sebuah perjalanan. Ia singgah sejenak di suatu tempat untuk menghilangkan rasa haus dan laparnya serta menyiapkan bekal secukupnya. Kemudian, ia akan melanjutkan kembali perjalanannya menuju tempat tujuan yang sesungguhnya yaitu di kampung akhirat.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam (SAW) bersabda, “… jadilah di dunia seolah-olah orang asing atau orang yang menumpang lewat”. Ibnu Umar berkata: “Apabila engkau berada pada sore hari maka jangan menunggu pagi, dan apabila engkau berada pada pagi hari maka janganlah menunggu waktu sore. Dan jadikan masa sehatmu sebelum keadaan sakitmu, dan keadaan hidupmu sebelum dating kematianmu” (Riwayat Bukhori)

Pada kesempatan lain Rasulullah SAW bersabda, “Orang bijak adalah orang yang menghitung dirinya dan beramal untuk kehidupan sesudah mati.” (Riwayat Tirmidzi)

3. Menyadari bahwa kematian itu sangat dekat

Bukankah setiap saat kita menyaksikan kematian itu datang silih berganti kepada setiap orang? Kematian datang tanpa pemberitahuan, menimpa siapa saja tanpa pandang bulu. Menimpa yang miskin maupun yang kaya, menimpa yang papa juga penguasa, menimpa yang sakit dan juga yang sehat.

“Telah semakin dekat kepada manusia hari menghisab segala amalan mereka, sedang mereka berada dalam keadaan lalai (dengan dunia), berpaling (dari akherat)”. (Al-Anbiya [21]: 1)

4. Menjenguk orang sakit dan bertakziah kepada yang ditimpa musibah.

Di antara amal yang dianjurkan dalam Islam adalah menjenguk saudaranya yang sakit, memberikan motivasi serta mendoakannya. Dari Abu Hurairah RA, bahwa Rasulullah SAW bersabda: “Hak Muslim terhadap Muslim yang lain itu ada lima, menjawab salam, menjenguk yang sakit, mengantarkan jenazah, memenuhi undangan, dan mendoakan yang bersin”. (Riwayat Bukhari, Muslim dan Ahmad)

Ini menjadi momen yang sangat baik bagi setiap Mukmin, selain menumbuhkan kepedulian, juga menyadarkan bahwa kesehatan fisik yang diberikan oleh Allah SWT setiap saat dapat dicabut sesuai dengan kehendak-Nya.

5. Ikut mengurus dan menguburkan jenazah.

Mengurus dan menguburkan jenazah, di samping kewajiban yang bersifat fardlu kifayah, juga meningkatkan kesadaran setiap Mukmin untuk mengingat kematian. Bayangkanlah bahwa kematian itu telah datang menjemput kita. Lalu, tubuh yang telah terbujur kaku di hadapan kita itu adalah diri kita sendiri.

Bayangkanlah, saat kita dimasukkan ke dalam liang kubur yang gelap gulita hanya dengan memakai kain kafan. Tertutuplah pintu amal dan kesempatan untuk bertaubat. Tinggallah amal-amal semasa hidup yang akan dipertanggung jawabkan di hari perhitungan nanti.

6. Berziarah kubur

Kita disunnahkan untuk berziarah kubur. Dalam satu riwayat diceritakan bahwa Rasulullah SAW biasa berziarah ke makam Pahlawan Uhud dan makam ahli Baqi’. Beliau mengucapkan salam dan berdoa untuk mereka, dengan do’a berikut:

اَلسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ أَهْلَ الدِّيَارِ مِنَ الْمُؤْمِنِيْنَ وَ الْمُسْلِمِيْنَ, وَ إِنَّا إِنْشَاءَ اللهُ بِكُمْ لاَحِقُوْنَ. نَسْأَلُ اللهُ لَنَا وَلَكُُمُ الْعَافِيَةَ.

“Semoga keselamatan bagimu, wahai penghuni kampung (kubur) kaum Mukmin dan Muslim . Sesungguhnya kami –insya-Allah- pasi menyusulmu. Kami mohon afiyat kepada Allah untuk diri diri kami dan juga untuk kalian semua”. (Riwayat Muslim, Ahmad dan Ibnu Majah)

Rasulullah SAW juga bersabda: “Sungguh tadinya aku melarang kamu menziarahi kubur. Maka (sekarang) telah diizinkan kepada Muhammad untuk menziarahi kubur ibunya. Maka (sekarang) kamu boleh menziarahi kubur, karena itu mengingatkan kamu kepada akhirat”. (Riwayat Muslim, Abu Dawud, Tirmidzi)

7. Selalu berdoa agar diberi kematian yang diridhai.

Banyak dzikir dan doa yang diajarkan Rasulullah SAW, yang dapat menjadi sarana bagi kita untuk mengingat kematian dan kehidupan sesudahnya. Doa dan dzikir tersebut, misalnya, saat tahiyyat akhir sebelum salam dianjurkan untuk berdoa:

اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ وَمِنْ عَذَابِ النَّارِ وَمِنْ فِتْنَةِ الْمَحْيَا وَالْمَمَاتِ وَمِنْ فِتْنَةِ الْمَسِيحِ الدَّجَّالِ (رواه مسلم)

“Yaa Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari adzab kubur dan dari adzab neraka, dan dari fitnah kehidupan serta fitnah kematian, dan dari fitnah Dajjal” (Riwayat Bukhari)

Banyak Lalai

Walaupun realitas menunjukkan bahwa kematian pasti datangnya dan tanpa pemberitahuan, manusia banyak yang lalai mempersiapkan bekal untuk kehidupannya di akhirat. Beberapa hal yang menjadi kendala bagi manusia untuk mengingat datangnya kematian itu antara lain:

1. Kurang Ilmu

Fakta-fakta yang sangat jelas membuktikan bahwa tidak ada manusia yang hidup terus. Pada zaman ini tidak ada manusia yang usianya melampaui 200 tahun. Lantas, mengapa manusia melalaikan diri dari mempersiapkan datangnya kematian itu?

Boleh jadi sikap melalaikan itu disebabkan karena mereka tidak memiliki ilmu dan pemahaman yang memadai tentang kehidupan sesudah mati. Misal, adanya siksa kubur, jembatan shirat, ancaman surga dan neraka. Mereka merasa seolah-olah hidup hanyalah di dunia saja. Bagi mereka, tidak ada lagi kehidupan dan tidak ada pertanggungjawaban amal setelah mereka meninggal dunia.

“Dan mereka berkata: ‘Kehidupan ini tidak lain hanyalah kehidupan di dunia saja, kita mati dan kita hidup dan tidak ada yang membinasakan kita selain masa”, dan mereka sekali-kali tidak mempunyai pengetahuan tentang itu, mereka tidak lain hanyalah menduga-duga saja”. (Al-Jaasiyah [45]: 24)

2. Cinta Dunia

Sebagian besar manusia yang lalai akan kematian adalah mereka yang sangat mencintai dunia. Memang, ini merupakan watak dasar manusia. Mereka mengira bahwa dunia ini segala-galanya. Dunia menjadi tujuan mereka dan terminal terakhir dari kehidupan mereka. Allah SWT berfirman:

“Bermegah-megahan telah melalaikan kamu, sampai kamu masuk ke dalam kubur”. (At-Takatsur [102]: 1-2)

3. Banyak Tertawa, Sedikit Menangis

Membawa hati kepada sesuatu yang menyenangkan adalah hal yang diperbolehkan, sebagaimana diperbolehkannya orang tersenyum dan tertawa. Tetapi, apabila seseorang bersenang-senang dan tertawa secara berlebihan, akan menyebabkan lalai dari mengingat kematian serta kehidupan akhirat.

Rasulullah SAW mengingatkan kepada setiap Mukmin agar menghindari bersenang-senang serta tertawa berlebihan. Beliau bersabda:
“Jadilah seorang Muslim, dan jangan banyak tertawa; karena sesungguhnya banyak tertawa itu dapat mematikan hati” (Riwayat Tirmidzi)

4. Banyak Bicara Sia-sia

Demikian pula dalam hal berbincang-bincang, manusia memang suka berlama-lama. Mereka berbicara dan menceriterakan sesuatu yang menarik perhatiannya.

Jika perbincangan itu sia-sia dan tidak mengantarkan kepada mengingat Allah SWT, bisa menyebabkan kerasnya hati dari lupa akan akhirat. Rasulullah SAW bersabda, dari Ibnu Umar RA: ”Janganlah kalian banyak berbicara tanpa mengingat Allah, karena sesungguhnya banyak berbicara yang tidak disertai mengingat Allah menyebabkan kerasnya hati. Sesungguhnya manusia yang paling jauh dari Allah adalah hati yang membatu,” (Riwayat Tirmidzi) SUARA HIDAYATULLAH 2008

Wallahu a’lamu bish shawab.***

Oleh Ainur Rofiq
(Anggota Dewan Syura Hidayatullah)

Wednesday, February 2, 2011

AGAR ANAK RAJIN BELAJAR


Anak Malas belajar sudah menjadi salah satu keluhan umum para orang tua dan guru. Kasus yang biasa terjadi adalah anak lebih suka bermain dari pada belajar. Anak usia sekolah tentunya perlu untuk belajar, antara lain berupa mengulang kembali pelajaran yang sudah diberikan di sekolah, mengerjakan pekerjaan rumah (pr) ataupun mempelajari hal-hal lain di luar pelajaran sekolah.

Malas
Malas dijabarkan sebagai tidak mau berbuat sesuatu, segan, tak suka, tak bernafsu. Malas belajar berarti tidak mau, enggan, tak suka, tak bernafsu untuk belajar (Muhammad Ali, Kamus Bahasa Indonesia)

Jika anak-anak tidak suka belajar dan lebih suka bermain, itu berarti belajar dianggap sebagai kegiatan yang tidak menarik buat mereka, dan mungkin tanpa mereka sadari juga dianggap sebagai kegiatan yang tidak ada gunanya/untungnya karena bagi anak-anak tidak secara langsung dapat menikmati hasil belajar. Berbeda dengan kegiatan bermain, jelas-jelas kegiatan bermain menarik buat anak-anak, dan keuntungannya dapat mereka rasakan secara langsung (perasaan senang yang dialami ketika bermain adalah suatu keuntungan).

Sebab
1. Faktor intinsik (dalam diri anak sendiri)
a. Kurangnya waktu yang tersedia untuk bermain
b. Kelelahan dalam beraktivitas (misal terlalu banyak bermain/ membantu orang tua)
c. Sedang sakit
d. Sedang sedih (bertengkar dengan teman sekolah, kehilangan barang kesayangan dll)
e. IQ/EQ anak

2. Faktor ekstrinsik
a. Sikap orang tua yang tidak memperhatikan anak dalam belajar atau sebaliknya (terlalu berlebihan memperhatikan)
Banyak orangtua yang menuntut anak belajar hanya demi angka (nilai) dan bukan atas dasar kesadaran dan tanggung jawab anak selaku pelajar. Memaksakan anak untuk les ini itu. dsb.
b. sedang punya masalah di rumah (misalnya suasana di rumah sedang "kacau" karena ada adik baru).
c. Bermasalah di sekolah (tidak suka/phobia sekolah, sehingga apapun yang berhubungan dengan sekolah jadi enggan untuk dikerjakan).
Termasuk dalam hal ini adalah guru dan teman sekolah.

d. Tidak mempunyai sarana yang menunjang belajar (misal tidak tersedianya ruang belajar khusus, meja belajar, buku penunjang , dan penerangan yang bagus.alat tulis, buku dll)
e. suasana rumah
misalnya rumah penuh dengan kegaduhan, keadaan rumah yang berantakan ataupun kondisi udara yang pengap. Selain itu tersedianya fasilitas permainan yang berlebihan di rumah juga dapat mengganggu minat belajar anak. Mulai dari radio tape yang menggunakan kaset, CD, VCD, atau komputer yang diprogram untuk sebuah permainan (games), seperti Game Boy, Game Watch maupun Play Stations.

Mengatasi Malas Belajar Anak
Mencari sebab musababnya anak menjadi malas adalah langkah pertama. Saran berikutnya antara lain sbb:
1. Menanamkan pengertian yang benar tentang seluk beluk belajar pada anak sejak dini.
Terangkan dengan bahasa yang dimengerti anak. menumbuhkan inisiatif belajar mandiri pada anak, menanamkan kesadaran serta tanggung jawab selaku pelajar pada anak merupakan hal lain yang bermanfaat jangka panjang.
2. Berikan contoh "belajar" pada anak.
Anak cenderung meniru perilaku orangtua. Ketika menyuruh dan mengawasi anak belajar, orangtua juga perlu untuk terlihat belajar (misalnya membaca buku-buku). Sesekali ayah-ibu perlu berdiskusi satu sama lain, mengenai topik-topik serius (suasana seperti anak sedang kerja kelompok dan diskusi dengan teman-teman, jadi anak melihat kalau orangtuanya juga belajar).
3. Berikan insentif jika anak belajar. Insentif yang dapat diberikan ke anak tidak selalu harus berupa materi, tapi bisa juga berupa penghargaan dan perhatian. Pujilah anak saat ia mau belajar tanpa mesti disuruh
4. Sering mengajukan pertanyaan tentang hal-hal yang diajarkan di sekolah pada anak (bukan dalam keadaan mengetes anak, tapi misalnya sembari mengisi tts atau ikut menjawab kuis ). Jika anak bisa menjawab, puji dia dengan menyebut kepintarannya sebagai hasil belajar. Kalau anak tidak bisa, tunjukkan rasa kecewa dan mengatakan "Yah Ade nggak bisa jawab, nggak bisa bantu Mama deh. Ade, di buku pelajarannya ada nggak sih jawabannya? Kita lihat yuk sama-sama". Dengan cara ini, anak sekaligus akan merasa dipercaya dan dihargai oleh orangtua, karena orangtua mau meminta bantuannya.
5. mengajarkan kepada anak pelajaran-pelajaran dengan metode tertentu yang sesuai dengan kemampuan anak.Misalnya active learning atau learning by doing, atau learning through playing, sehingga anak merasakan bahwa belajar adalah sesuatu yang menyenangkan.
6. Komunikasi
Hendaklah ortu membuka diri , berkomunikasi dengan anaknya guna memperoleh secara langsung informasi yang tepat mengenai dirinya.
Carilah situasi dan kondisi yang tepat untuk dapat berkomunikasi secara terbuka dengannya. Setelah itu ajaklah anak untuk mengungkapkan penyebab ia malas belajar. Pergunakan setiap suasana yang santai seperti saat membantu ibu di dapur, berjalan-jalan atau sambil bermain, tidak harus formal yang membuat anak tidak bisa membuka permasalahan dirinya.
7. Menciptakan disiplin.
jadikan belajar sebagai rutinitas yang pasti.
8. Menegakkan kedisiplinan.
Setelah point 7, Menegakkan kedisiplinan harus dilakukan bilamana anak mulai meninggalkan rutinitas yang telah disepakati. Bilamana anak melakukan pelanggaran sedapat mungkin hindari sanksi yang bersifat fisik (menjewer, menyentil, mencubit, atau memukul). gunakanlah konsekuensi-konsekuensi logis yang dapat diterima oleh akal pikiran anak.
9. Pilih waktu belajar terbaik untuk anak, ketika anak merasa segar. Mungkin sehabis mandi sore. Anak juga bisa diajak bersama-sama menentukan kapan waktu belajarnya.
10. Kenali pola kemampuan dan perkembangan anak kemudian susunlah suatu jadwal belajar yang sesuai.
dalam hal ini IQ, EQ, kemampuan konsentrasi ,daya serap dll.
11. Menciptakan suasana belajar yang baik dan nyaman
Setidaknya orangtua memenuhi kebutuhan sarana belajar, memberikan perhatian dengan cara mengarahkan dan mendampingi anak saat belajar. Sebagai selingan orangtua dapat pula memberikan permainan-permainan yang mendidik agar suasana belajar tidak tegang dan tetap menarik perhatian.

11. Menghibur dan memberikan solusi yang baik dan bijaksana pada anak.
Dalam hal ini jika anak sakit/sedih.

Beberapa hal yang tidak kalah pentingnya dalam menyikapi anak yang sedang dilanda malas belajar adalah:

1. Orangtua harus menyadari sisi positif sang anak.
Galilah sisi positif anak agar anak menyadari dirinya sendiri untuk mengatasi masalahnya.
Pernah nggak sih kamu menghadapi PR yang sangat sulit, tapi akhirnya bisa mengatasinya? Ajak anak untuk mengingat ingat, dan kemudian bercerita. Begitu anak mengingat momen itu, gali lebih jauh. PR apa itu, apa saja kesulitannya, bagaimana dia mengatasinya, dan seterusnya.
Anak akhirnya tersadar bahwa dia bisa mengatasi kesulitan-kesulitannya itu, karena dia memiliki sisi positif tertentu. Sisi itu bergantung dari sang anak. Bisa saja karena kesabaran, keuletan, usaha dia untuk bertanya kepada teman, dan sebagainya.
Perkuat keyakinan anak, atau sadarkan anak. Misalnya dengan mengatakan: Nah, kamu pernah mengalami hal yang seperti ini, dan berarti kamu bisa mengatasinya.

2. Gunakan imajinasi anak
Orangtua membantu anak membayangkan, apa yang dia inginkan untuk masa depannya. Baik dalam waktu panjang atau pendek.
Pancing anak untuk membayangkan sesuatu yang menyenangkan jika dia berhasil mengerjakan PR-nya dengan baik., kira-kira apa ya komentar dari guru? Minta dia menggambarkan imajinasinya dengan jelas, apa jadinya jika PR-nya bagus. Mulai dari bagaimana senyum sang guru, komentarnya, dan sebagainya.

3. Mengarahkan anak untuk berteman dan "hidup" dalam lingkungan yang baik dan mendukung.

4. Tidak terfokus bahwa belajar hanya berkutat pada buku non fiksi.
Gunakan segala hal yang baik yang mampu membuat anak "belajar"tentang segala sesuatu, termasuk permainannya karena dunia bermain adalah dunia anak-anak Pilih dan arahkan permainannya sehingga anak bisa berkembang.

5. Memberikan bekal nilai-nilai religius (dienul Islam) pada anak
Inilah faktor yang sangat penting,disamping doa orang tua akan anak-anaknya. Apalagi di jaman yang berkembang dengan pesatnya. Tak mungkin orang tua memberikan pengawasan secara kasat mata terus menerus.Juga kemajuan teknologi. Satu hal yang menjadi jawabnya adalah: berdienul Islam dengan baik dan benar.
oga artikel ini dapat membantu orang tua dalam mengatasi anknya yang malas belajar.
Walloohu A`lam. Sumber:
http://www.e-psikologi.com/anak/060502.htm
http://www.keluargabahagia.com/artikel.php?act=detail&id=13