
Maksud hati ingin meraih prestasi setinggi-tingginya sejak usia dini. Namun selalu harus puas hanya ditataran akademis... Tak pernah memboyong piala ke rumah.
Sejak SD, saya sudah begitu sering mewakili sekolah untuk mengikuti berbagai lomba. Namun kesemuanya hanya sekedar 'mencari pengalaman'. Terbaiknya cuma peringkat 6 lomba mapel IPA or Sains se-kecamatan, peringkat 13 lomba siswa se-kecamatan. Kemudian ditutup dengan NEM tertinggi se-Kelurahan dan STTB terbaik se-sekolah.
Di bangku SLTP, Saya terpaku dan terpuruk. Begitu kesulitan beradaptasi dengan pembelajaran SMP membuat saya pernah menduduki rangking 10 besar terbawah. Yang terbaik cuma peringkat 9 se-kelas. Sungguh mengerikan.
Selanjutnya, Saya belajar dari 'kegagalan' semasa SLTP. Di SLTA, saya memilih sekolah yang kurang favorit. Pengecut, barangkali saya saat itu disebut. Dan benar saja. Saat di SLTA, saya hampir tidak pernah bergeser dari rangking 1 di kelas ataupun paralel di sekolah. Hanya sekali rangking 2 di semester 1, 5 semester sisanya menduduki peringkat 1. Meski di penghujung pembelajaran SLTA menempati rangking tertinggi dalam STTB, NEM hanya menempati peringkat 2 dengan selisih 0,02 dengan peringkat 1. Sungguh tragis kisahnya. Sebabnya adalah dalam keadaan sakit saat mengerjakan ujian nasional itu... Huhh... Kenangan yang tak terlupakan..
Semasa di bangku kuliah.. Saya memilih UNS Solo karena relatif dekat... Masa perkuliahan saya jalani dengan semangat di awalnya.. Tetapi diakhirnya.. saya terhantuk beraneka problematika sehingga kuliah saya berlangsung selama 7 tahun yang seharusnya cuma 4 tahun.. Mengerikan.....
Masa kehidupan selanjutnya adalah di luar bangku pendidikan formal. Saya mencoba menekuni hobi bulutangkis. Selain untuk 'refreshing', olahraga ini menawarkan peluang untuk berprestasi juga. Namun sayang, prestasinya hanyalah di tataran bawah persaingan menjadi juara. Sungguh memalukan ditingkat kampung saja, saya hanya menduduki peringkat 3 sebanyak 2 kali, dan juara 2 sebanyak dua kali juga. Sementara di tataran kecamatan hampir selalu kandas di babak pertama dan hanya sekali masuk dalam quarter final... Selanjutnya, pernah dua kali mewakili Gugus VI Banjarsari dan hanya kembali menempati peringkat 4. Di sinilah nampaknya berakhir-lah masa mencari prestasi. Pada pertandingan perebutan peringkat 3. Cedera lutut membuat saya tidak bisa berjalan selama 4 hari dan istirahat panjang yang tak terbatas dari olahraga badminton... Huhhhh...
Setelah menjadi guru bahasa Inggris, kembali prestasi yang tidak memuaskan diraih. Dalam Lomba Guru Bahasa Inggris yang diadakan UNS yang sebenarnya tingkat nasional, namun pesertanya hanya-lah level Jateng-DIY, saya harus puas menempati nominee 5. Yah lumayan-lah dapat uang separuh gaji, pohon, sertifikat, kaos dan souvenir lainnya. Menjadi guru Inggris yang berprestasi adalah impian saya selanjutnya...
Ketika diri sulit berprestasi, impian yang ingin saya wujudkan adalah mengantarkan orang lain meraih prestasi puncak. Sebagai guru bahasa Inggris begitu banyak peluang untuk itu. Namun masih sedikit yang bisa saya perbuat. Saya terhitung belum berhasil mendampingi dan membina anak untuk berprestasi. Berikut ini hanya secuil yang bisa saya bantu untuk anak-anak didik saya; Juara IV Retelling Story, Juara I Retelling Story. Juara 4 Spelling Bee. Juara 3 Spelling Bee. Semuanya masih dalam tataran regional Surakarta. Sungguh masih jauh dari impian saya untuk membawa anak-anak ke tingkat internasional... Mengerikan...
Tapi... Harapan itu masih ada... Semangat itu masih menyala meski sudah tak se-bara dulu lagi... Ya Alloh jika saya tidak mampu berprestasi jadikan putra hamba dan murid hamba berprestasi... Jadikanlah saya perantara-Mu bagi mereka untuk meraih prestasi maksimal... Amien
No comments:
Post a Comment